Makalah Matkul TAFSIR TARBAWI


 
heyyheyy sobatt online ku....
kali ini saya akan berbagi makalah 
yukkk bacaa bacaa..


MAKALAH
KEBUTUHAN MANUSIA AKAN PENDIDIKAN DALAM SURAT AL LUQMAN AYAT 13 DAN SURAT ABASA AYAT 1-3
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tafsir Tarbawi

  

  


Dosen Pembimbing :
Hamidatun Nihayah, M. Th I
Disusun Oleh Kelompok 2
1.      Eka Fitriya Nanda       (201955010104690)
2.      Muhammad Sukron    (201955010104772)
3.      M. Adip Mukhtar        (201955010104968)
4.      Siti Nur Azizah          (201955010104864)
5.      Wahyu Muqorrobin     (201955010104693)

FAKULTAS TARBIYAH
PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
INSTITUT AGAMA ISLAMA (IAI) SUNAN GIRI BOJONEGORO
2020
KATA PENGANTAR


Bismillaahirrahmaanirrohiim,
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua, sehingga kita semua bisa menjalankan aktifitas sehari-hari termasukmencari ilmu dalam keadaan sehat tanpa ada halangan suatu apapun.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda kita Nabi Muhammad SAW, karena beliaulah kita semua sampai saat ini bisa merasakan masa yang penuh dengan kedamaian juga cahaya penerang kehidupan yaitu agama Islam, dan semoga kita semua kelak tergolong umat beliau yang mendapatakan syafaat di hari kiamat nanti.
Dengan segala kerendahan hati serta atas berkat pertolonganNya, kami bisa menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Kebutuhan Manusia Akan Pendidikan Dalam Surat Al Luqman Ayat 13 Dan Surat Abasa Ayat 1-3” dengan lancar. Akan tetapi kami juga menyadari dengan sepenuh hati bahwa karya makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna dan masih perlu banyak pembenahan juga bimbingan.
Oleh sebab itu, kami ingin memohon maaf apabila dalam sebuah karya makalah ini terdapat banyak kesalahan maupun kekurangan, dan kami sangat berharap kritik dan juga saran dari para pembaca sebagai bentuk apresiasi untuk kami kedepannya dalam membuat karya makalah supaya menjadi lebih baik dan benar dari sebelumnya.
Dan kami juga ingin berterima kasih kepada Bapak/Ibu Dosen yang sudah mau membimbing kami dan juga kepada semua pihak yang sudah memberikan dukungan dan semangat untuk kami, semoga karya makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penyusun dan bagi para pembaca pada umumnya.
Bojonegoro,22 Januari 2020
                                                                                                Penyusun
DAFTAR ISI

SAMPUL ............................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1
A.    Latar Belakang .......................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2
C.     Tujuan ....................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................... 3
A.    Isi Kandungan Surat Al LuqmanAyat 13.................................................................. 3
1.      Teks Surat Al Luqman Ayat 13........................................................................... 3
2.      Terjemah Surat Al Luqman Ayat 13.................................................................... 3
3.       Asbabun NuzulSurat Al Luqman Ayat 13.......................................................... 4
4.       Tafsir Surat Al Luqman Ayat 13......................................................................... 5
5.       Kandungan Surat Al Luqman Ayat 13................................................................ 9
B.     Isi Kandungan Surat Abasa Ayat 1-3........................................................................ 10
1.      Teks Surat Abasa Ayat 1-3.................................................................................. 10
2.      TerjemahSurat Abasa Ayat 1-3............................................................................ 10
3.       Asbabun Nuzul Surat Abasa Ayat 1-3................................................................ 10
4.       Tafsir Surat Abasa Ayat 1-3................................................................................ 11
5.      Kandungan Surat Abasa Ayat 1-3....................................................................... 14
BAB III PENUTUP............................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 19

BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Pada kenyataannya memang benar bahwa Pendidikan adalah salah satu kebutuhan manusia. Manusia dalam kenyataan hidupnya menunjukkan bahwa ia membutuhkan suatu prosesbelajar yang memungkinkan dirinya untuk menyatakan eksistensinya secara utuh dan seimbang. Manusia tidak dirancang untuk dapat hidup secara langsung tanpa proses belajar terlebih dahulu untuk memahami jati dirinya dan menjadi dirinya. Dalam proses belajar itu seseorang saling tergantung dengan orang lain. Proses belajar dimulai dengan orang terdekatnya. yang selanjutnya proses belajar itulah yang menjadi basis pendidikan.
Sedikit berbicara mengenai pendidikan, Ngalim M Purwanto (1995) mengungkapkan bahwa pendidikan adalah proses pewarisan nilai dan pengalaman dalam artian positif untuk mengembangkan peserta didik agar memiliki bekal dalam hidupnya baik dalam kehidupan pribadinya maupun kehidupan sosialnya. Pendidikan, baik formal maupun nonformal, adalah sarana untuk pewarisan kebudayaan. Setiap masyarakat mewariskan kebudayaannya kepada generasi yang lebih kemudian agar tradisi kebudayaannya tetap hidup dan berkembang, melalui pendidikan. Pendidikan dapat diartikan segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, produk pendidikan sering hanya diukur  dari perubahan eksternal yaitu kemajuan fisik dan material  yang dapat meningkatkan pemuasan kebutuhan manusia. Masalahanya adalah bahwa  manusia dalam memenuhi kebutuhan sering bersifat tidak terbatas, bersifat subyektif yang sering justru dapat menghancurkan harkat kemanusiaan yang paling dalam yaitu kehidupan rohaninya.Produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil untuk melakukan pekerjaannya, tetapi tidak memiliki kepedulian dan perasaan terhadap sesama manusia. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan menjadi instrumen kekuasaan dan kesombongan untuk memperdayai orang lain, kecerdikannya digunakan untuk menipu dan menindas orang lain, produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang serakah dan egois.[1]
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut :
1.    Apa Isi Kandungan QS. Al LuqmanAyat 13?
2.    Apa Isi Kandungan QS. Abasa Ayat 1-3?

C.  Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan diatas, tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk :
1.    Mengetahui Isi Kandungan QS. Al Luqman Ayat 13?
2.    Mengetahui Isi Kandungan QS. Abasa Ayat 1-3?













BAB II
PEMBAHASAN

A.      Teks Dan Terjemah Surat Al Luqman Ayat 13
1.    Teks Ayat
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ۝۱۳
2.    Terjemah
a.    Terjemah Kosa Kata
لُقۡمَٰنُ
قَالَ
وَإِذۡ
Luqman
berkata
dan ketika
يَعِظُهُۥ
وَهُوَ
لِٱبۡنِهِۦ
memeberi pelajaran kepadanya
dan Dia
kepada anaknya
تُشۡرِكۡ
لَا
يَٰبُنَيَّ
kamu mempersekutukan
janganlah
Wahai keturunan
ٱلشِّرۡكَ
إِنَّ
بِٱللَّهِۖ
mempersekutukan
sesungguhnya
dengan Allah

عَظِيم
لَظُلۡمٌ

yang besar
benar-benar kezaliman

b.   Terjemah Ayat
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Al Luqman: 13).
3.    Asbabun Nuzul
Surat Luqman mengajarkan kepada umat Islam materi-materi pendidikan yang harus diajarkan kepada anak-anaknya. Nilai ketuhanan merupakan materi utama yang harus ditanamkan dalam diri seorang anak sejak kecil. Surat Luqman tergolong surat makkiyyah.  Jumhur ulama berpendapat bahwa Surat Luqman turun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Menurut para mufassir, asbabun nuzul Surat Luqman ayat 13-14 berhubungan dengan kisah Sa'ad bin Abi Waqash. Pada waktu itu, sahabat Sa'ad bin Abi Waqash telah memeluk agama Islam. Namun, sikap beliau tersebut mendapat penolakan dari ibunya. "Wahai Sa'ad. Demi Allah, saya tidak akan menerima makanan atau minuman dari kamu, sebelum kamu kembali pada agamamu yang dulu." Begitulah tanggapan orangtua Sa'ad bin Abi Waqash ketika mendengar kabar putranya mengimani agama Muhammad. Sahabat Sa'ad bin Abi Waqash tetap kekeh dengan pilihannya. Melihat sikapanya Sa'ad yang kekeh, Ibunda beliau benar-benar mogok makan, minum dan bahkan tidak mau berteduh selama tiga hari. Sebagai putra kesayangan, Sa'ad merasa khawatir dengan kondisi ibunya. Kemudian, sahabat Sa'ad mengadukan prihal ibundanya kepada Rasulullah SAW. Lalu turunlah Surat al-Baqarah ayat 13-14 berkaitan dengan Sa'ad bin Abi Waqash. Diriwiyatkan juga dari Mus’ab bin Sa’ad bin Abi Waqash dari ayahnya. Ayahnya berkata, ayat ini turun berkaitan dengan diriku. Ia menceritakan, bahwa Ibu Sa'ad telah bersumpah tidak berbicara selama-lamanya sehingga dirinya (Sa’ad) mengingkari agamanya (Islam). Dia tidak makan dan minum. Ibu berada dalam keadaan seperti itu selama tiga hari sehingga tampak kondisinya menurun. Lalu turunlah firman Allah Swt: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya). (HR. Muslim dari Abu Khuzaimah). Secara tegas, Allah SWT menceritakan nasihat-nasihat Luqman Hakim kepada anaknya di dalam Surat al-Baqarah ayat 13-14. Nasihat Luqman pertama tentang larangan mengekutukan Allah SWT. Dalam nasihatnya, Luqman mengajak ankanya agar menyembah Allah SWT semata. Sebab, menyekutukan Allah merupakan perbuatan zalim yang terbesar.
 وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ 

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman :13)
Ayat di atas menginformasikan bahwa pendidikan pertama yang harus ditanamkan kepada anak adalah ketauhidan. Penanamam nilai-nilai tauhid sejak dini dapat membentuk karakter anak yang mampu menggunakan anugerah Tuhan dengan baik. Ia akan memanfaatkan akal pikirannya untuk memecahkan segala rahasia Tuhan di alam semesta ini. Dengan berbekal tauhid yang kuat, manusia dalam menjalankan aktfitas-aktifitasnya berdasarkan nafas ilahi. Karena, nilai-nilai tauhid yang merasuk di dalam hati, akan membawa pada titik keimanan serta ketakwaan yang tinggi kepada Allah SWT. Sehingga, jiwa kemanusiaan melekat pada pribadinya. Manusia sadar akan dirinya sebagai hama Tuhan, yang harus mempunyai sikap tolong-menolong, saling mengasihi dan peduli terhadap sesama. Kehidupan dan perilakunya selalu mengahadirkan Tuhan dalam setiap langkahnya.

4.    Penafsiran QS. Al Luqman Ayat 13
a.    PenafsiranMenurut Tafsir Fi Zhilalil Qur’an
Kebijaksanaan orang tua (ayah) terhadap anaknya menjadi sebuah keteladanan ketika seorang anak telah dewasa. Persoalan ketauhidan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak sebelum ia mengetahui hal perkara lainnya. Sebagai orang tua wajib menanamkan nilai ketauhidan (keesaan) Allah dengan benar kepada anaknya.
“Dan (kenangilah) ketika Luqman berkata kepada anaknya semasa memberinasihat kepadanya: Wahai anakku! Janganlah engkau sekutukanAllah,sesungguhnya syirik itu adalah satu kezaliman yang amat besar.” Ini adalah satunasihat yang jujur karena tiada lain tujuan seorang bapa melainkan supaya anaknyamendapat kebaikan dan tiada sikap yang wajar bagi seorang bapa terhadap anaknyamelainkan memberi nasihat. Disini Luqmanul-Hakim melarang anaknya danmempersekutukan Allah dengan alasan bahwa perbuatan syirik adalah suatu yangamat besar. Beliau menekankan hakikat ini dua kali. Sekali dengan mengemukakanlarangan dan menjelaskan alasannya dan sekali lagi dengan menggunakan kata-katapengua yaitu “inna” dan “lam” pada “ladhulmun”. lnilah hakikat yang dikemukakanNabi Muhammad s.a.w. kepada kaumnya lalu mereka mernpertikaikannya danmengatakan penceritaan ini sebagai ada udang disebalik hatu. Mereka takutpenceritaan ini bertujuan untuk mencabut kekuasaan mereka dan menunjukkankelebihan ke atas mereka. Apakah yang ada pada nasihat Luqmanul-Hakim yangdikemukakan kepada anaknya? Tidakkah nasihat seorang bapa kepada anaknya itu bersih dari segala keraguan dan jauh dari segala sangkaan yang buruk? Sebenarnya itulah hakikat yang amat tua yang disebut oleh setiap orang yang dikurniakan Allah pengetahuan hikmat yang bertujuan semata-mata untuk kebaikan bukannya tujuan yang lain darinya. lnilah penerangan psikologi yang dimaksudkan disini.

b.   Penafsiran Menurut Tafsir Ibnu Katsir
Allah Swt. menceritakan tentang nasihat Luqman kepada anaknya. Luqman adalah anak Anqa ibnu Sadun, dan nama anaknya ialah Saran, menurut suatu pendapat yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi.
Allah Swt. menyebutkan kisah Luqman dengan sebutan yang baik, bahwa Dia telah menganugerahinya hikmah; dan Luqman menasihati anaknya yang merupakan buah hatinya, maka wajarlah bila ia memberikan kepada orang yang paling dikasihinya sesuatu yang paling utama dari pengetahuannya. Karena itulah hal pertama yang dia pesankan kepada anaknya ialah hendaknya ia menyembah Allah semata, jangan mempersekutukannya dengan sesuatu pun. Kemudian Luqman memperingatkan anaknya, bahwa:
{إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ}

“sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Luqman: 13)
Yakni perbuatan mempersekutukan Allah adalah perbuatan aniaya yang paling besar.
قَالَ الْبُخَارِيُّ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ ،عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ: {الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} الْأَنْعَامِ: ۝۸۲، شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم، وَقَالُوا: أَيُّنَا لَمْ يَلْبس إِيمَانَهُ بِظُلْمٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أنه لَيْسَ بِذَاكَ، أَلَا تَسْمَعَ إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ: {يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ}
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah yang menceritakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik). (Al-An'am: 82) Hal itu terasa berat bagi para sahabat Nabi Saw. Karenanya mereka berkata, "Siapakah di antara kita yang tidak mencampuri imannya dengan perbuatan zalim (dosa)." Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Bukan demikian yang dimaksud dengan zalim. Tidakkah kamu mendengar ucapan Luqman: 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.' (Luqman: 13)
Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Al-A'masy dengan sanad yang sama.
Kemudian sesudah menasihati anaknya agar menyembah Allah semata. Luqman menasihati pula anaknya agar berbakti kepada dua orang ibu dan bapak. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:
{وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا}
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Al-Isra: 23)

c.    Penafsiran Menurut Tafsir Misbah
Dalam ayat ini ahli-ahli bahasa yang mendalami isi al-qur‟an merasakan benar-benar betapa mulia dan tinggi susun bahasa wahyu itu dari Allah terhadap rasul-Nya. Beliau disadarkan dengan halus supaya jangan sampai bermuka masam kepada orang yang datang bertanya: hendaklah bermuka manis terus, sehingga orang-orang yang tengah dididik itu merasa bahwa dirinya dihargai. Pada ayat 1 dan 2 kita melihat bahwa kepada Rasulullah tidaklah dipakai bahasa berhadapan, misalnya “mengapa engkau bermuka masam, mentang-mentang yang datang itu orang buta?”12 Dan tidak pula bersifat larangan: “jangan engkau bermuka masam dan berpaling, karena dengan susunan kata larangan, teguran itu menjadi lebih keras. Tidak layak dilakukan kepada orang yang Aallah sendiri menghormatinya. Tidak! Allah tidak memakai perkataan yang demikian susunnya kepada rasul-Nya. Melainkan dibahasakannya rasulNya sebagai orang ketiga menurut ilmu pemakaian bahasa.

d.   Penafsiran Menurut Tafsir Al Mukhtasar
Pada awal-awal surat ini (ditujukan) sebagai petunjuk untuk Nabi dalam bergaul dengan orang-orang yang lemah dari kalangan kaum muslimin. Allah menjelaskan bahwa pada wajah Rasul nampak perubahan dan bermuka masam ketika telah datang padanya seorang yang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang menanyakan kepadanya berkenaan dengan urusan agama; Maka Rasul berpaling darinya karena Abdullah Ummi Maktum memotong ucapan Rasul ketika beliau sibuk berdakwah kepada pembesar-pembasar Quraisy yang keras kepala semisal : Utbah, Syaibah, Abu Jahl, dan Walid bin Mughirah yang Rasul mendambakan keislaman pada mereka. Kemudian Allah tegur Nabi dengan berkata: Tidaklah engkau (wahai Nabi) mengetahui dirinya dan dikabarkan berkenaan dengan keadaan orang yang buta ini, maka semoga ia dengan bertanya kepadamu aka menjadikan dirinya suci dari dosa-dosanya. Atau memberikan manfaat dengan apa yang ia dengar darimu kemudian ia berpikir dan menerangi hatinya dengan cahaya keimanan. Adapun pembesar-pembesar itu yang justru wajahnya berpaling, pura-pura buta dengan apa yang engkau dakwahkan, maka sungguh engkau telah menyampaikan dakwah kepada mereka dan tidak ada kewajiban bagimu kecuali hanya menyampaikan, dan sungguh telah engkau kerjakan. Dan Allah catat dengan firman-Nya: “Abasa wa Tawallaa”. Dan Allah tidak mengatakan: Engkau Muhammad bermuka masam dan telah berpaling, yang seolah-olah berbicara dengan seseorang yang lain (selain nabi). Karena maksud Allah hanyalah mengingatkan dan memberi petunjuk.

e.    Penafsiran Menurut Tafsir Muyassar
Ingatlah -wahai Rasul- tatkala Lukman berkata kepada anaknya, dan dia menginginkan anaknya mendapat kebaikan dan menghindarkannya dari keburukan, "Wahai anakku! ـanganlah engkau menyembah bersama Allah makhluk selain-Nya, sesungguhnya menyembah sesembahan lain selain Allah adalah kezaliman yang besar terhadap jiwa dengan melakukan dosa terbesar yang mengakibatkan kekal di dalam Neraka.”
Dalam Tafsir Munir juga ayat itu disebutkan wa huwa ya„izhuh. Kata ya„izh berasal dari al-wazh atau al-izhah yang berarti mengingatkan kebaikan dengan ungkapan halus yang bisa melunakkan hati.47Karena itu, dalam mendidik anaknya, Luqman menempuh cara yang amat baik, yang bisa meluluhkan hati anaknya sehingga mau mengikuti nasihat-nasihat yang diberikan. Kemudian Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik/persekutuan Allah. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang wujud dan keesaan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk larangan, jangan mempersekutukan Allah untuk menekan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik. Memang menyingkarkan keburukan lebih utama daripada menyandang perhiasan).[2]
5.    Kandungan Surat Al Luqman Ayat 13
Pesan luqman kepada anaknya (termasuk pesan luqman pada kita semua): Janganlah kamu mempersekutukan (Allah) dengan sesuatu apapun, dan jangan juga mempersekutukan-Nya sedikit persekutuan pun, lahir maupun batin. Persekutuan yang jelas maupun tersembunyi. Sesungguhnya syirik yakni mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar". Itu adalah penempatan sesuatu yang sangat agung pada tempat yang sangat buruk.
Aspek nilai pendidikannya adalah sebagai berikut:
·      Pentingnya menjaga Tauhid dan kejinya dosa Syirik
·      Menjelaskan arti hikmah, yaitu bersyukur kepada Allah Swt dengan cara taat dan selalu ingat kepadaNya. Dan orang yang bersyukur itu pasti orang memiliki akal sehat
·      Pentingnya memberi nasehat yang baik, sekaligus memberi solusi (irsyad) kepada siapa saja
·      Buruknya dosa musyrik dan jeleknya orang yang memusyrikan Allah Swt
·      Keharusan taat kepada orang tua dan mempelakukan mereka dengan lembut dan sayang
·      Pengukuhan pedoman, “Tidak boleh patuh kepada seseorang jika menyuruh berbuat dosa kepada Allah Swt.” Dan ini berlaku kepada orang tua untuk tidak taat atas kemauan mereka ketika diperintah melakukan keburukan.
B.       Teks Dan Terjemah Surat Abasa Ayat 1-3
1.    Teks Ayat
عَبَسَ وَتَوَلَّى ۝۱ أَنْ جَاءَهُ الأَعْمَى ۝۲ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلّهُ يَزَّكَّى ۝۳

2.    Terjemah
a.    Terjemah Kosa Kata
وَتَوَلّٰٓى
عَبَسَ
dan berpaling
dia berwajah masam
وَمَا يُدْرِيكَ
 اَنْ جَآءَهُ الْاَعْمٰى
dan tahukah engkau (Muhammad)
(karena) seorang buta telah datang (kepada)nya
 يَزَّكّٰى
لَعَلَّه
(ingin) menyucikan dirinya
barangkali dia

b.   Terjemah Ayat
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”. (QS. Abasa: 1-3)

3.    Asbabun Nuzul
Orang buta itu bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada Rasulullah s.a.w. meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ini sebagi teguran kepada Rasulullah s.a.w.


4.    Penafsiran Surat Abasa Ayat 1-3
a.    Penafsiran Menurut Tafsir Fi Zhilalil Qur’an
Analisis Pola Interaksi Edukatif Dalam Al-Qur an Surat Abasa Ayat 1-3 Manusia hidup dibumi berhubungan dan berinteraksi dengan sesamanya dengan berbagai macam hubungan yang mempunyai timbangan, bobot, dan daya tarik terhadap kehidupannya.
Ahmad musthofa al-maraghi, terjemah tafsir al maraghi 28, (semarang: toha putra, 1993), hlm. Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Ada beberapa kitab tafsir yang memberi penafsiran al-Qur’an surat Luqman ayat 13. Diantaranya ialah tafsir fi zhilalil Qur’an Sayid Quthb menafsirkan bahwa pengarahan Luqman terhadap anaknya dengan nasihat tersebut mengandung hikmah kebijaksanaan. Nasihat tersebut tidak mengandung tuduhan, akan tetapi mengandung persoalan ketauhidan.
Mereka bergaul dan bermuamalah dengan nilai-nilai seperti nasab (keturunan), kekuatan (kekuasaan), dan harta benda (kekayaan). Termasuk juga nilai-nilai yang timbul dari hubungan kerja, perekonomian ataupun non perekonomian. Dalam sebuah hal itu, pertimbangan sebagian manusia berbeda dengan sebagian yang lain. Sehingga yang sebagian lebih unggul dalam timbangan-timbangan bumi. Kemudian islam datang untuk mengatakan, sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang paling bertakwa. Lalu, ditutupnya lembaran yang berisi nilai-nilai yang berat timbangannya dalam kehidupan manusia, keras tekanannya terhadap perasaan mereka, dan kuat daya tariknya kebumi. Semuanya diganti dengan nilai-nilai baru yang bersumber langsung dari langit, yang hanya ini saja yang diakui dalam timbangan langit 1. Kemudian datanglah peristiwa ini untuk menetapkan nilai itu dalam sebuah peristiwa yang terbatas. Juga untuk menetapkan prinsip dasar bahwa 1 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur an.

b.   Penafsiran Menurut Tafsir Ibnu Katsir
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
Bukan hanya seorang dari ulama tafsir menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. di suatu hari sedang berbicara dengan salah seorang pembesar Quraisy, yang beliau sangat menginginkan dia masuk Islam. Ketika beliau Saw. sedang berbicara dengan suara yang perlahan dengan orang Quraisy itu, tiba-tiba datanglah Ibnu Ummi Maktum, salah seorang yang telah masuk Islam sejak lama. Kemudian Ibnu Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang sesuatu dengan pertanyaan yang mendesak. Dan Nabi Saw. saat itu sangat menginginkan andaikata Ibnu Ummi Maktum diam dan tidak mengganggunya, agar beliau dapat berbicara dengan tamunya yang dari Quraisy itu karena beliau sangat menginginkannya mendapat hidayah. Untuk itulah maka beliau bermuka masam terhadap Ibnu Ummi Maktum dan memalingkan wajah beliau darinya serta hanya melayani tamunya yang dari Quraisy itu. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya:
(عَبَسَ وَتَوَلَّى * أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى * وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى)
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”. ('Abasa: 1-3).

c.    Penafsiran Menurut Tafsir Misbah
Pada ayat ini, Allah SWT memperingatkan kepada Rasulullah saw nasihat yang pernah diberikan Luqman kepada putranya, waktu ia memberi pelajaran kepada putranya itu. Nasihat itu ialah: "Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan sesuatu dengan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kelaliman yang sangat besar.” Mempersekutukan Allah dikatakan kelaliman, karena perbuatan itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu menyamakan sesuatu

d.   Penafsiran Menurut Tafsir Al Mukhtasar
وَإِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ (Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya) Lukman menyampaikan kepada anaknya nasehat-nasehat yang mengajak kepada ketauhidan, adab-adab yang baik, dan melarangnya dari kesyirikan. يٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِاللهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ(“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”) Bahkan itu adalah kezaliman yang paling besar, sebab kezaliman adalah menyelewengkan suatu hak dari pemiliknya, dan hak ibadah adalah milik Allah semata, tidak ada yang berhak selain-Nya, sebab semua makhluk adalah makhluk-Nya dan segala urusan adalah urusan-Nya, sehingga menjadikan ibadah untuk selainnya merupakan pemberian hak kepada yang tidak berhak, maka itu menjadi kezaliman yang paling besar, meski tidak ada orang yang mampu memberi-Nya mudharat sedikitpun dan Dia Maha Kaya dan Maha Terpuji.

e.    Penafsiran Menurut Tafsir Muyassar
Ayat ini turun sebagai teguran untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mungkin kita pernah mendengar kisahnya, bahwa waktu itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sibuk mendakwahi para pemuka-pemuka Quraisy, seperti Abu Jahal, ‘Uthbah bin Rabi’ah, demikian pula Al-‘Abbas. Dan Rasulullah sangat berharap keIslaman mereka, para pemuka-pemuka Quraisy ini. Rupanya datanglah Ibnu Ummi Maktum yang buta, di mana ia berkata:
يا رسول الله علمني مما علمك الله
“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saya sesuatu yang Allah telah ajarkan kepada engkau.”
Melihat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermuka masam. Beliau pun berpaling, karena Rasulullah lebih mengharapkan keIslaman orang-orang Quraisy tersebut.
Setelah Rasulullah selesai, Rasulullah pun pulang, ternyata Allah pun turunkan ayat-ayat ini:
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ﴿١﴾ أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ ﴿٢﴾ وَمَا يُدْرِ‌يكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ ﴿٣﴾
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, (1) karena telah datang seorang buta kepadanya. (2) Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), (3)
Ini menunjukkan kalaulah Al-Qur’an itu buatan Nabi Muhammad, tentu Rasulullah tidak akan sampaikan ayat ini. Ayat ini sentilan / teguran untuk Rasul, tapi Rasulullah sampaikan kepada umatnya. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Faedah yang pertama, bahwa kita di dalam berdakwah, hendaklah kita lebih mendahulukan orang-orang yang menginginkan hidayah daripada orang-orang yang enggan, yang tidak menginginkan hidayah. Terkadang kita ingin supaya para pemuka-pemuka agama ataupun para pemimpin-pemimpin daerah, kita fokuskan dakwah ke mereka tapi mereka tidak menginginkan dakwah. Akibatnya kemudian kita lalaikan orang-orang yang dia sebetulnya mencari dan menginginkan hidayah. Yang benar adalah kita fokuskan kepada mereka yang menginginkan walaupun kita tetap dakwahi orang-orang yang jauh daripada dakwah itu. Kita tetap dakwahi para pemuka dan pemimpin, tapi tetap kita berusaha untuk lebih memfokuskan kepada orang-orang yang menginginkan hidayah. Karena orang-orang yang menginginkan hidayah itu yang bermanfaat insya Allah baginya peringatan. Dan tujuan da’i itu adalah bagaimana mengajak manusia ke jalan Allah, bagaimana membimbing kemudian mentarbiyah manusia di atas jalan kebenaran.

3.    Kandungan Surat Abasa Ayat 1-3
a.    Pada firman Allah عَبَسَ وَتَوَلَّى (Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling). Di sini Allah menggunakan dhomir ghoib (kata ganti orang ketiga). Allah mengatakan: “Dia bermuka masam”. Allah tatkala menegur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menurunkan surat ini kepada Nabi, Allah tidak berkata: عَبْسْتَ وَتَوَلَّيْتَ “Engkau bermuka masam dan engkau berpaling” (dengan dhomir mukhothob/kata ganti orang kedua). Metode ini ada dua faedah:
·      Allah tidak suka mengarahkan pernyataan yang keras langsung terarahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi Allah menggunakan uslub/pola kata ganti orang ketiga. Karena sifat “bermuka masam” dan “berpaling” adalah sikap yang keras. Ini merupakan bentuk pemuliaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (Al-Aluusi dalam tafsirnya)
·      Agar ayat ini sebagai peringatan kepada umatnya secara umum, agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini (Al-Utsaimin) 
b.    Bolehnya menyebutkan cacat seseorang jika memang ada kemaslahatan dan bukan dalam rangka menghina.Al-Baidhowi rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan 3 faedah penyebutan orang buta dalam ayat ini, beliau berkata:
وذكر الأعمى للإِشعار بعذره في الإِقدام على قطع كلام رسول الله صلّى الله عليه وسلم بالقوم والدلالة على أنه أحق بالرأفة والرفق، أو لزيادة الإِنكار كأنه قال: تولى لكونه أعمى
“(1) Penyebutan “Orang buta” sebagai pemberitahuan untuk memberi udzur kepadanya yang datang dan memotong pembicaraan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan para pembesar tersebut, dan juga (2) sebagai petunjuk bahwasanya ia (orang buta tersebut) lebih berhak untuk disikapi lemah lembut, serta (3) tambahan pengingkaran kepada Nabi, seakan-akan Allah berkata : “Dia (bermuka masam dan) berpaling dikarenakan orang tersebut buta” (Tafsir Al-Baidhoowi)
Oleh karenanya kita dapati para ahli hadits terkadang mensifati para perawi dengan cacat yang ada pada mereka, namun dalam rangka pengenalan dan pembedaan, seperti Al-Aroj (yang pincang) dan Al-‘A’masy (yang pandangannya lemah).
c.    Firman Allah وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى(٣) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya, atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?)
Syaikh As-Sa’dy rahimahullah mengatakan:
{يَزَّكَّى} أي: يتطهر عن الأخلاق الرذيلة، ويتصف بالأخلاق الجميلة؟ {أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى} أي: يتذكر ما ينفعه، فيعمل (1) بتلك الذكرى
“Yaitu menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk, dan berhias dengan akhlak yang mulia?yaitu ia mengingat apa yang bermanfaat baginya dan iapun mengamalkan peringatan tersebut”
Ini adalah dalil bahwasanya hidayah adalah ditangan Allah, bahkan bisa jadi orang yang miskin yang cacat justru dialah yang mengambil manfaat dari nasehatmu, berbeda dengan orang yang kaya dan terpandang.






















BAB III
PENUTUP

A.      Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan konsep pendidikan menurut Al-Qur’an diarahkan pada upaya menolong anak didik agar dapat melaksanakan fungsinya mengabdi kepada Allah. Seluruh potensi yang dimiliki seseorang yaitu potensi intelektual, jiwa dan jasmani harus di bina secara terpadu dalam keselarasan, keserasian dan keseimbangan yang tergambar dalam sosok manusia seutuhnya.
Dan mengajarkan seseorang untuk selalu menghormati kedua orang tua,menjalankan perbuatan amar ma’ruf dan nahi munkar,serta mengajarkan seseorang untuk menjalankan hubungan manusia dengan melakukan perbuatan baik, sikap dan perilaku dalam pergaulan, serta kesedehanaan dalam berkomunikasi dengan sesama.
Juga diterangakan agar seluruh manusia menghormati dan menghargai kedua orang tuanya karena ia yang telah berjuang membesarkan kita, tanpa ada kata penat dan lelah, yang ada hanyalah keinginan agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses dikehidupannya, dan berbakti pada yang maha kuasa.
Sedangkan dalam surat Abasa ayat 1-3 menjelaskan tentang berdakwah yang tersebut dalam Faedah yang pertama, bahwa kita di dalam berdakwah, hendaklah kita lebih mendahulukan orang-orang yang menginginkan hidayah daripada orang-orang yang enggan, yang tidak menginginkan hidayah. Terkadang kita ingin supaya para pemuka-pemuka agama ataupun para pemimpin-pemimpin daerah, kita fokuskan dakwah ke mereka tapi mereka tidak menginginkan dakwah. Akibatnya kemudian kita lalaikan orang-orang yang dia sebetulnya mencari dan menginginkan hidayah. Yang benar adalah kita fokuskan kepada mereka yang menginginkan walaupun kita tetap dakwahi orang-orang yang jauh daripada dakwah itu. Kita tetap dakwahi para pemuka dan pemimpin, tapi tetap kita berusaha untuk lebih memfokuskan kepada orang-orang yang menginginkan hidayah. Karena orang-orang yang menginginkan hidayah itu yang bermanfaat insya Allah baginya peringatan. Dan tujuan da’i itu adalah bagaimana mengajak manusia ke jalan Allah, bagaimana membimbing kemudian mentarbiyah manusia di atas jalan kebenaran.


B.     Saran
Demikian makalah yang bisa kami sajikan, kami sadar bahwa ini sangatlah jauh dari kesempurnaan. Maka, kritik dan saran pembaca sangatlah berguna bagi pengembangan makalah ini. Jika, ada suatu kelebihan, itu hakikatnya adalah milik Allah SWT. Harapan kami, semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi siapapun yangmembutuhkan. 




























DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghiy, Ahmad Mushthafa, Terjemah Tafsir Al-Maraghiy, Semarang: CV. Toha Putra
Al-Qur’anul Karim Terjemah Tafsir Per Kata, Bandung: CV. Insan Kamil,
Al-Mahalliy, Imam Jalaluddin dan As-Suyuthi, Imam Jalaluddin, Terjemah Tafsir Jalalain Berikut Asbaabun Nuzul, Bandung: CV. Sinar Baru
Az-Zuhail, Wahbah, Tafsir Al-Munir
Al-Maraghi, Ahmad Musthofa, Tafsir al-Maraghi 1, terj. Bahrun Abu Bakar, Beirut: Darul Kutub.
Shihab, M. Quraish, TAFSIR AL-MISBAH: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. 2002
M. Ali Ash-Shabuny, Cahaya Al-Qur™an, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002
Tafsir Al-hidayah
Fuad Al-Baqi, Muhammad, Al-Mu’jamal0Mufahras lil al-fadz al-Qur’an, beirut: Dar al-Fikr, 1992
Gofarfar E.M, M. Abdul.Tafsir Ibnu Katsir (Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir). Bogor Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XI, Jakarta: Pustaka Panjimas
Mahmud Hijaji, muhammad, Al-Tafsir al-Wadih, Kairo: Mathaba’h al-Istiqbal al-Kubra,1968
Saefuddin Anshari, Endang, ilmu Filsafat dan agama:  PT. Bina Ilmu surabaya, 1987
Shihab, M. Quraish, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam KehidupanMasyarakat, Bandung: Mizan, 2007.
Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XI/143, Dar al-Fikr, Beirut, 1991
Yahya Badrussalam, Abu, Lc., Tafsir Muyassar, 2013


[1]Artikel islam,tentang kebutuhan manusia akan pendidikan.2014


sekian

Komentar

Postingan Populer